Tuesday, January 16, 2018

DAUN YANG KERING (EPS.2)

       Sepertinya keinginan untuk keluar dari jurusanku semakin kuat, aku ingin pindah ke jurusan lain. Jurusan kesehatan memang bukan kesukaanku, ini adalah keinginan orang tua ku. Salah satu penyebab kenapa aku memilih jurusan ini karena aku teringat Almarhum adik ku, yang mana dia terkena penyakit yang tidak ada solusinya. Syaraf motoriknya tidak berjalan, bahkan dia tidak merespon apapun. Dari pengobatan modern sampai pengobatan alternatif tidak ada yang bisa menangani. Itulah mengapa aku ingin masuk ke jurusan kesehatan.
       Aku sempat hopeless, tetapi ternyata harapan itu datang. Mulai satu per satu aku mendapatkan teman. Bersyukur sekali memiliki teman yang wellcome terhadap ku. Mereka memotivasi aku untuk tidak menyerah.        Lambat laun aku mulai terbiasa dengan ritme perkuliahan ini. Bahkan aku mulai mahir dalam memecahkan kasus. Alhamdulillah aku dibimbing teman temanku yang lebih mahir dari pada aku. Kalau boleh berandai, ketika nanti aku sukses dan berhasil aku ingin memberikan sesuatu kepada teman temanku sebagai bentuk terimakasih ku kepada mereka, meskipun itu masih sekedar mimpi, dan aku berharap bisa menjadi doa.
       Oh iya terlebih dahulu perlu diketahui aku memiliki sifat introvert, sifat dimana seseorang lebih suka sendiri, atau lebih menutup diri. Oleh sebab itu bagi ku memiliki teman banyak adalah sebuah prestasi. Karena kebanyakan orang introvert hanya memiliki 1 sampai 3 teman. Tapi aku terus belajar untuk menjadi orang yang sosial dengan keterbatasan yang aku punya.
       Setelah aku menjalani perkuliahan, ternyata benar kata kakak ku, Wahyah bahwa kunci kuliah itu ada di semester 1 dan 2, kalau nilaimu hancur jangan harap bisa lulus tepat waktu. Dan kunci untuk tidak putus asa dalam menjalani perkuliahan yaitu bergaul dengan teman teman yang lebih ahli. Seperti sebuah peribahasa jika kamu berteman dengan penjual minyak wangi kamu akan mendapatkan wanginya.
Hari demi hari aku menjalani perkuliahan alhasil aku lulus dengan IPK....

Bersambung...

Monday, January 15, 2018

DAUN YANG KERING (EPISODE 1)



       Ini cerita ku, yah aku baru diwisuda selesai sebagai sarjana 1 di jurusan kesehatan di universitas Yogjakarta. Sangat gembira merasakan momen ini, dengan sedikit sedih karena aku sudah tidak merasakan momen-momen di perkuliahan dulu, teringat masa masa titip absen, masa masa telat, masa masa jahil, teringat masa masa nyontek, eh aku gak pernah nyontek tapi kalau nyontekin sering.. Hehe
       Aku menyelesaikan perkuliahan ku selama 4,8 tahun, termasuk yang paling telat dari pada teman-temanku yang lain. Bukan tanpa alasan, di semester pertama dan kedua aku merasakan masa masa sulit, sulit banget.
       Oh iya aku mau kenalin namaku dulu, aku Wahyu, anak paling ragil di rumahku, aku punya satu kakak namanya Wahiyah, emm sepertinya orang tua ku kehabisan kamus untuk mencari nama anak anaknya.
       Kembali ke topik, di semester awal perkuliahan aku merasakan masa sulit. Selain memang aku harus cepat beradaptasi tetapi ada satu hal yang membuat aku tidak bisa fokus dalam perkuliahanku, keluarga ku tertimpa musibah. Terdengar telepon berbunyi di malam hari, ketika itu Ayah mengangkat telepon itu, dan terlihat wajah ayah yang pucat dan mimik wajahnya yang sock. Kakak ku wahiyah mengalami kecelakaan, di malam hari kakakku mengendarai motor dengan kecepatan yang tinggi, dia tertabrak mobil Jip. Sekeluargaku bergegas ke rumah sakit dan dikabarkan bahwa kaki kakak ku patah tidak hanya satu tetapi kedua kakinya patah. Begitu terpukulnya orang tua ku mendengar berita itu dari perawat. Tapi bersyukur Allah masih menyelamatkan nyawanya. Kami sekeluarga sibuk mencari pendonor darah untuk operasi kakak ku. Keluarga om datang dan tak lama segala keperluan untuk operasi kakakku terpenuhi.
       Setiap harinya aku harus menjaga kakakku, bahkan perkuliahanku aku terlantarkan, yah begitulah yang harus aku terima, dan alhasil diperkuliahanku disemester pertama mendapatkan IPK 1,6. Nilai transkipku dihiasi dengan nilai D dan E. Tidak apa ini adalah bentuk pengorbananku untuk kakak ku yang tercinta.
       Ternyata penderitaanku belum berahir, perekonomian keluargaku mengalami kebangkrutan, keluargaku beralih profesi dari warung kelontong menjadi tukang jualan makanan. Setiap malamnya aku harus membantu dan banting tulang. Aku benar benar putus asa di masa perkuliahanku. DO atau biasa dibilang drop out terus membayangiku. Dijurusanku banyak sekali matakuliah yang praktek, tugaspun tak berhenti henti. Kadang aku menyesal mengambil jurusan yang full time. Praktikum berjam jam dihitung hanya 1 sks, aduh menderitanya jadi mahasiswa. Alhasil di ahir semester kedua aku memperoleh IPK 1,3. Ternyata bukan semakin baik tetapi IPK ku semakin turun. Sepertinya ini tandanya aku harus pindah jurusan. Wait.. Tunggu aku memiliki kartu As yang bisa membalikkan kondisi ku.

Bersambung...